Selasa, 27 November 2012

Job order costing (Harga Pokok Pesanan)


Oleh :
Nurul Lailia
Akuntansi Manajemen 2012 -1, Prodi Ekonomi Syariah, Universitas Yudharta Pasuruan.
Job order costing adalah suatu metode pengumpulan biaya produksi untuk menentukan harga pokok produksi pada perusahaan atas dasar pesanan. Tujuannya untuk menentukan harga pokok produk dari setiap pesanan baik harga pokok pesanan secara keseluruhan dari tiap-tiap pesanan maupun untuk persatuan.Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok produksi persatuan di hitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut.
·       
  Karakteristik job order costing
Karakteristik perusahaan yang menggunakan job order costing adalah :
1.     Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan spesifikasi pemesanan.
2.     Biaya produksi digolongkan berdasarkan hubungannya dengan produk menjadi biaya 
produksi langsungdan biaya produksi tidak langsung.
3.     Biaya produksi langsung terdiri biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
4.     Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai beban pokok produksi pesanan tertentu
berdasarkan biayayang sesungguhnya terjadi.
5.     Beban pokok produksi perunit dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tersebut dengan jumlah

unit produk yang dihasilkan dalampesanan yang bersangkutan.
·         Manfaat Penggunaan Job Order Costing System
Manfaat dari penggunaan job order costing bagi pihak manajemen adalah :
1.     Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pelanggan.
2.     Mempertimbangkan dalam hal menerima atau menolak pesanan.
3.     Memantau realisasi biaya produksi.
4.     Menghitung laba atau rugi dari tiap pesanan.
5.     Menentukan beban pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang akan 
disajikan dalamneraca.
·         Tahapan Job Order Costing System
Langkah  langkah dalam perhitungan job order costing yaitu :
1. Identifikasi pekerjaan yang dipilih sebagai obyek biaya
dilakukan, maka harus di identifikasi pekerjaan sesuai dengan obyek biaya.
2. Identifikasi biaya langsung pekerjaan
Dalam mengidentifikasi biaya manufaktur,yang dikategorikan menjadi biaya manufaktur 
langsung yaitu bahan baku langsung dan tenaga kerja manufaktur langsung.
3. Pilih dasar alokasi biaya yang digunakan untuk mengalokasikan biaya tidak langsung ke 
pekerjaan
Biaya manufaktur tidak langsung adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk menjalankan
 suatu pekerjaan namun tidak dapat dilacak langsung ke pekerjaan tertentu.
4. Identifikasi biaya tidak langsung yang terkait dengan setiap dasar alokasi biaya
Alokasi tunggal berdasarkan jam kerja tenaga manufaktur langsung dapat digunakan untuk mengalokasikan biaya manufaktur tidak langsung bagi produk.
5. Hitung tarif perunit dari setiap dasar alokasi biaya yang digunakan untuk mengalokasikan 
biaya tidak langsung kepekerjaan.
Untuk setiap costpool, tarif biaya tidak langsung (indirect cost rate) 
dihitung dengan cara membagi biaya overhead total dalam pool biaya (yang ditentukan
 pada langkah 4) dengan kuantitas total dari dasar alokasi biaya (yang ditentukanpada 
langkah 3), untuk perhitungannya dapat dilihat di bawah ini.

Tarif biaya tidak langsung aktual = Biaya total aktual dalam cost pool biaya tidak langsung
Total kuantitas aktual dari dasar alokasi biaya
6. Hitung biaya tidak langsung yang dialokasikan ke pekerjaan
Biaya tidak langsung dari suatu pekerjaan dihitung dengan mengalihkan kuantitas aktual dari setiap dasar alokasi biaya(satu dasar alokasi untuk setiap pool) yang terkait dengan 
pekerjaan itu dengan tarif biaya tidak langsung dari setiap dasar alokasi biaya (yang dihitung pada langkah 5).
7. Hitung biaya total pekerjaan dengan menambahkan seluruh biaya langsung dan tidak 
langsung yang dibebankan kepekerjaan.
Seluruh biaya yang terkait seperti manufaktur langsung yang meliputi bahan baku langsung dan tenaga kerjamanufaktur langsung, serta biaya manufaktur tidak langsung.

Pustaka :
               Syeany Sutikno , 2012. Akutansi menejemen

2 komentar: